Taman Tempat Memendam Rindu
Posted by on Kamis, Oktober 28, 2010 with No comments
SETIAP kali ada pergeseran musim, terutama dari musim kemarau ke
musim hujan, mendadak sontak ada kegembiraan yang muncul. Setiap mata
yang dibekali kejernihan, setiap telinga yang bersahabat dengan
kepekaan, setiap rasa yang sering bersahabat dengan getaran-getaran
semesta, melihat munculnya kegembiraan ketika musim hujan datang.
Kegembiraan ini memang tidak disertai oleh tepuk tangan, tidak
diikuti suara musik, apalagi pemberian piala. Sekali lagi, hampir
tidak ada hiruk pikuk di sana. Yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan
kegembiraan sebagai cermin rasa syukur yang mendalam.
Perhatikan pohon apa saja. Lengkap dengan akar, batang, daun, bunga
sampai dengan buah. Wajahnya berbeda ketika musim hujan datang.
Bahkan dibandingkan dengan pohon yang disiram tangan manusia tiga
kali sehari pun, berbeda penampakannya.
Tidak saja daun dan bunganya yang bertambah banyak, melainkan
kualitas ekspresi daun dan bunganya juga berbeda. Tidak saja akar
yang memeluk tanah yang tampak gembira, bahkan tanah tempat banyak
sekali hal berasal juga seperti menampakkan wajah-wajah gembira.
Sehingga dalam totalitas, ketika musim hujan tiba, seperti ada yang
bersuara di taman sana.
Ada yang menyebutnya suara rindu, ada yang mengiranya sebagai
ungkapan rasa syukur, ada yang mengatakan kalau itu sebentuk perayaan.
Entahlah, yang jelas alam yang berumur jauh lebih panjang dari
manusia sebenarnya menghadirkan makna jauh lebih banyak dari sekadar
alasan keberadaan fisik manusia.
Memang benar, hampir semua input kehidupan manusia datang dari alam.
Makanan, minuman, dan bahkan pemikiran manusia pun sebagian lebih
berasal atau terinspirasi dari alam.
Disinari cahaya-cahaya pemahaman seperti ini, ada sahabat yang
berbisik: alam ada lebih dari sekadar alasan phisical survival. Alam
juga menjadi petunjuk jalan yang meyakinan ketika manusia mau pulang.
Tersentak oleh bisikan sahabat kejernihan terakhir, ada sepasang mata
yang mencermati, bagian mana dari alam yang bisa menjadi petunjuk
jalan manusia untuk pulang.
Pohonkah, batukah, tanahkah, langitkah, matahari, atau malah
binatang. Karena semuanya memiliki bahasa yang berbeda dengan
manusia, tentu saja semuanya tidak bisa memberi jawaban dalam bahasa
manusia.
Sebagian lebih dari jejaring semesta bahkan hanya mengenal bahasa
hening dan diam tanpa penghakiman. Seperti mau berbisik: hening dan
diam tanpa penghakiman itulah jalan-jalan menghantar manusia pulang.
Ikhlas
Sebutlah guru kejernihan yang bernama pohon. Ia tidak pernah berhenti
berjalan dengan sebuah bahasa: ikhlas! Hujan datang, musim kering
yang panas, tanah yang subur, tanah yang kerontang, bahkan di depan
manusia yang mau menghabisi, atau bahkan di depan kematian pun
modalnya sama: ikhlas!
Bunga juga serupa. Begitu tugasnya menebar bau wangi selesai, ia layu
kemudian jatuh ke tanah untuk melakukan tugas berikutnya sebagai
pupuk. Air apalagi.
Sejauh apa pun jalan yang harus ia tempuh, tugasnya berjalan tetap ia
lakukan sepenuh hati. Lebih-lebih tanah yang kerap disebut Ibu
Pertiwi.
Ia hanya mengenal sebuah bahasa: memberi. Tidak ada protes tentang
hasil di sana, wacana, apalagi perlawanan. Yang ada hanyalah
ketekunan melakukan semua tugas-tugas kehidupan. Sekali lagi seperti
mau berbisik, lakukan tugas-tugas kehidupan dengan tekun. Biarkan
hasilnya ditentukan sepenuhnya oleh yang punya hidup.
Taman Kehidupan
Ini soal taman di pekarangan rumah, sebenarnya ada taman yang lebih
besar dan megah: kehidupan. Serupa dengan taman sebenarnya, kehidupan
juga mengenal perubahan dan perayaan.
Perubahannya tidak perlu diceritakan karena sudah terlalu jelas.
Namun perayaannya, inilah bedanya dengan taman. Taman melakukan
perayaan hampir setiap hari di setiap perubahan. Taman kehidupan
manusia baru ada perayaan kalau perubahan 'sesuai' dengan kriteria-
kriteria di kepala.
Taman tidak mengenal kompetisi, baik untuk alasan pertumbuhan ataupun
alasan lain. Tidak ada satu pun batang pohon yang sikut menyikut di
taman. Sedangkan taman kehidupan memerlukan kompetisi. Terutama
karena alasan pertumbuhan. Seolah-olah tanpa kompetisi pasti tidak
ada pertumbuhan.
Belajar dari taman kehidupan yang sudah mulai demikian panas dan
sumpeknya oleh perang, konflik, permusuhan, dan perceraian. Ada
sahabat-sahabat di pojokan tertentu taman kehidupan berfikir lain: in
the garden of mystics, there is no I, she or he. There is only we and
us. Seeing our selves as islands is the cause of our inability to
find the fullest experience of life. Setidaknya itu yang ditulis
Wayne W. Dyer dalam Wisdom of The Ages.
Di taman kehidupan, memang tidak ada pulau. Yang ada hanyalah
jejaring kebersatuan yang saling kait-mengait. Siapa saja yang
mendirikan pulau 'saya' di sana, ia pasti mengalami kesulitan untuk
mengalami hidup yang penuh. Persis seperti setetes air. Setetes air
memang bisa melakukan hal yang teramat sedikit. Jangankan
menghanyutkan sesuatu, mengobati rasa haus pun jauh dari cukup.
Cuma, ketika setetes air tadi bersatu dengan samudera, ia memiliki
kekuatan yang amat dahsyat. Hal yang sama terjadi dalam setiap
kehidupan yang menjadi satu dengan kebersatuan. Ia sedahsyat
samudera! Dalam keadaan demikian, bisa dimaklumi kalau ada yang
menyebut taman kehidupan dengan sebutan taman tempat memendam rindu.
Rindunya setetes air bersatu dengan samudera. Dalam bahasa Wayne W.
Dyer: the single quality that defines mysticism is the idea of
oneness. Ada sahabat yang pernah datang ke taman tempat memendam
rindu?
musim hujan, mendadak sontak ada kegembiraan yang muncul. Setiap mata
yang dibekali kejernihan, setiap telinga yang bersahabat dengan
kepekaan, setiap rasa yang sering bersahabat dengan getaran-getaran
semesta, melihat munculnya kegembiraan ketika musim hujan datang.
Kegembiraan ini memang tidak disertai oleh tepuk tangan, tidak
diikuti suara musik, apalagi pemberian piala. Sekali lagi, hampir
tidak ada hiruk pikuk di sana. Yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan
kegembiraan sebagai cermin rasa syukur yang mendalam.
Perhatikan pohon apa saja. Lengkap dengan akar, batang, daun, bunga
sampai dengan buah. Wajahnya berbeda ketika musim hujan datang.
Bahkan dibandingkan dengan pohon yang disiram tangan manusia tiga
kali sehari pun, berbeda penampakannya.
Tidak saja daun dan bunganya yang bertambah banyak, melainkan
kualitas ekspresi daun dan bunganya juga berbeda. Tidak saja akar
yang memeluk tanah yang tampak gembira, bahkan tanah tempat banyak
sekali hal berasal juga seperti menampakkan wajah-wajah gembira.
Sehingga dalam totalitas, ketika musim hujan tiba, seperti ada yang
bersuara di taman sana.
Ada yang menyebutnya suara rindu, ada yang mengiranya sebagai
ungkapan rasa syukur, ada yang mengatakan kalau itu sebentuk perayaan.
Entahlah, yang jelas alam yang berumur jauh lebih panjang dari
manusia sebenarnya menghadirkan makna jauh lebih banyak dari sekadar
alasan keberadaan fisik manusia.
Memang benar, hampir semua input kehidupan manusia datang dari alam.
Makanan, minuman, dan bahkan pemikiran manusia pun sebagian lebih
berasal atau terinspirasi dari alam.
Disinari cahaya-cahaya pemahaman seperti ini, ada sahabat yang
berbisik: alam ada lebih dari sekadar alasan phisical survival. Alam
juga menjadi petunjuk jalan yang meyakinan ketika manusia mau pulang.
Tersentak oleh bisikan sahabat kejernihan terakhir, ada sepasang mata
yang mencermati, bagian mana dari alam yang bisa menjadi petunjuk
jalan manusia untuk pulang.
Pohonkah, batukah, tanahkah, langitkah, matahari, atau malah
binatang. Karena semuanya memiliki bahasa yang berbeda dengan
manusia, tentu saja semuanya tidak bisa memberi jawaban dalam bahasa
manusia.
Sebagian lebih dari jejaring semesta bahkan hanya mengenal bahasa
hening dan diam tanpa penghakiman. Seperti mau berbisik: hening dan
diam tanpa penghakiman itulah jalan-jalan menghantar manusia pulang.
Ikhlas
Sebutlah guru kejernihan yang bernama pohon. Ia tidak pernah berhenti
berjalan dengan sebuah bahasa: ikhlas! Hujan datang, musim kering
yang panas, tanah yang subur, tanah yang kerontang, bahkan di depan
manusia yang mau menghabisi, atau bahkan di depan kematian pun
modalnya sama: ikhlas!
Bunga juga serupa. Begitu tugasnya menebar bau wangi selesai, ia layu
kemudian jatuh ke tanah untuk melakukan tugas berikutnya sebagai
pupuk. Air apalagi.
Sejauh apa pun jalan yang harus ia tempuh, tugasnya berjalan tetap ia
lakukan sepenuh hati. Lebih-lebih tanah yang kerap disebut Ibu
Pertiwi.
Ia hanya mengenal sebuah bahasa: memberi. Tidak ada protes tentang
hasil di sana, wacana, apalagi perlawanan. Yang ada hanyalah
ketekunan melakukan semua tugas-tugas kehidupan. Sekali lagi seperti
mau berbisik, lakukan tugas-tugas kehidupan dengan tekun. Biarkan
hasilnya ditentukan sepenuhnya oleh yang punya hidup.
Taman Kehidupan
Ini soal taman di pekarangan rumah, sebenarnya ada taman yang lebih
besar dan megah: kehidupan. Serupa dengan taman sebenarnya, kehidupan
juga mengenal perubahan dan perayaan.
Perubahannya tidak perlu diceritakan karena sudah terlalu jelas.
Namun perayaannya, inilah bedanya dengan taman. Taman melakukan
perayaan hampir setiap hari di setiap perubahan. Taman kehidupan
manusia baru ada perayaan kalau perubahan 'sesuai' dengan kriteria-
kriteria di kepala.
Taman tidak mengenal kompetisi, baik untuk alasan pertumbuhan ataupun
alasan lain. Tidak ada satu pun batang pohon yang sikut menyikut di
taman. Sedangkan taman kehidupan memerlukan kompetisi. Terutama
karena alasan pertumbuhan. Seolah-olah tanpa kompetisi pasti tidak
ada pertumbuhan.
Belajar dari taman kehidupan yang sudah mulai demikian panas dan
sumpeknya oleh perang, konflik, permusuhan, dan perceraian. Ada
sahabat-sahabat di pojokan tertentu taman kehidupan berfikir lain: in
the garden of mystics, there is no I, she or he. There is only we and
us. Seeing our selves as islands is the cause of our inability to
find the fullest experience of life. Setidaknya itu yang ditulis
Wayne W. Dyer dalam Wisdom of The Ages.
Di taman kehidupan, memang tidak ada pulau. Yang ada hanyalah
jejaring kebersatuan yang saling kait-mengait. Siapa saja yang
mendirikan pulau 'saya' di sana, ia pasti mengalami kesulitan untuk
mengalami hidup yang penuh. Persis seperti setetes air. Setetes air
memang bisa melakukan hal yang teramat sedikit. Jangankan
menghanyutkan sesuatu, mengobati rasa haus pun jauh dari cukup.
Cuma, ketika setetes air tadi bersatu dengan samudera, ia memiliki
kekuatan yang amat dahsyat. Hal yang sama terjadi dalam setiap
kehidupan yang menjadi satu dengan kebersatuan. Ia sedahsyat
samudera! Dalam keadaan demikian, bisa dimaklumi kalau ada yang
menyebut taman kehidupan dengan sebutan taman tempat memendam rindu.
Rindunya setetes air bersatu dengan samudera. Dalam bahasa Wayne W.
Dyer: the single quality that defines mysticism is the idea of
oneness. Ada sahabat yang pernah datang ke taman tempat memendam
rindu?
Categories: Asal Ngomong
0 komentar:
Posting Komentar