ini adalah catatan dari cerita perjalanan kehidupan saya dan keluarga, blog ini sengaja saya sembunyikan dari keluarga dengan harapan suatu saat mereka bisa menemukan, mencerna, dan memahami maksud saya dari menulis blog ini, meski dengan cara copy paste

Jumat, Oktober 29, 2010

Enjoy the Moments



Life is not a matter of milestones, but a matter of moments” – Anonim


Seorang ayah memenuhi janjinya untuk mengajak anaknya pergi memancing. Dengan bersusah hati diantara schedulenya yang padat, si ayah berusaha mengambil cuti. Dan akhirnya, berangkatlah ia dengan anaknya, untuk pergi memancing. Seharian mereka memancing, tetapi tidak mendapatkan seekor ikanpun. Dengan marah-marah, akhirnya sampai sore, mereka pun pulang. Puluhan tahun berlalu, ternyata pengalaman ini dicatat oleh mereka masing-masing dalam diary harian mereka. Ketika dibaca ulang, diary si ayah bunyinya begini, "Kurang ajar. Hari yang sial! Saya sudah cuti seharian untuk memancing, ternyata tidak mendapatkan seekorpun. Sebel banget!" Sementara itu, diary anaknya pun dibuka, ternyata kalimatnya, "Terima kasih Tuhan. Hari yang luar biasa. Saya pergi memancing bersama ayah. Meskipun tidak mendapatkan seekor ikanpun, tetapi saya punya kesempatan ngobrol-ngobrol banyak dengan ayah. Sangat menyenangkan!"

Pembaca, betapa berbedanya sudut pandang si ayah dengan si anaknya. Bagi si ayah, yang terpenting adalah mendapatkan ikan-ikan, sementara bagi si anak, justru pengalaman memancing bersama itulah yang menyenangkan. Itulah orang-orang yang seringkali saya bicarakan di dalam seminar dan training saya, satunya lebih menghargai 'milestones' sementara lainnya, lebih menghargai 'moments'.

Kejadian ini sebenarnya mengingatkan saya dengan pengalaman bertemu dengan seorang General Manager sebuah perusahaan ritel, dimana ia sangat sukses dan berhasil tetapi dalam konselingnya dengan saya, mukanya tampak letih. Singkatnya, ia mengatakan, "Aku capek, sangat keletihan. Hidupku rasanya bergerak dari satu target ke target lainnya". Tidaklah mengherankan bagi saya kalau si GM ini keletihan hidupnya. Yang muncul adalah perasaan kasihan saya karena hidupnya hanyalah kumpulan dari gol satu ke gol lainnya. Bahkan, dengan keluarganya pun ia hampir tidak mempunyai waktu. Bahkan, untuk jalan-jalan dengan keluarganya saja, ia harus menjadwalkan, seakan-akan menset target apa yang harus dicapai dalam piknik keluarganya, dll. Sungguh meletihkan sekali melihat hidupnya!


Pelari Marathon atau Pendaki Gunung?
Metafora ini saya gunakan hanya untuk menggambarkan dua jenis orang di dalam menikmati hidupnya. Yang pertama, saya umpamakan seperti seorang pelari marathon. Saya ingat, saya pernah mengikuti beberapa kali lomba marathon, dan itu sangat menyenangkan. Masalahnya, saat mengikuti merathon, saya berlari dengan serius. Terfokus pada satu titik ke titik yang lain, hingga selesai . Bahkan, penonton yang di tepi jalanpun saya cuekin. Saya hanya terfokus untuk berlari dan akhirnya bisa sampai ke garis finish (ngomong-ngomong, ini mungkin tidak mewakili semua pelari marathon karena toh ada rekan saya yang bisa sangat menikmatinya). Singkat cerita, inilah tipe yang saya anggap mewakili orang yang hidupnya hanya dari satu 'milestones' (tahapan) ke 'milestone' yang lainnya.

Bandingkanlah gaya pelari marathon ini dengan gaya seorang pendaki gunung. Saya ingat, saya pun pernah punya berkesempatan mendaki gunung. Sungguh pengalaman yang agak berbeda dengan pengalaman jadi pelari marathon. Dalam mendaki gunung, kami memang punya tujuan yang harus dicapai, yakni puncaknya. Tetapi, sepanjang perjalanan, kami bisa bernyanyi-nyanyi, saling bercerita bahkan sesekali berhenti sejenak jika ada sesuatu yang menarik untuk dinikmati. Sungguh menyenangkan berkesempatan menikmati satu demi satu tempat yang kami lalui. Dan inilah metafora yang saya anggap mewakili orang yang hidupnya bisa bergerak dari 'moment' ke 'moment'.

Nah, dengan kedua metafora tersebut, saya ingin mengajak Anda untuk merefleksikan bagaimanakah kecenderungan sikap Anda dalam menghadapi hidup ini, dalam menyikapi pekerjaan Anda, dalam menyikapi proses perkembangan anak Anda? Terlalu banyak karyawan, pimpinan maupun orang tua yang menyikapi pekerjaan dan keluarganya seperti 'milestones'. Memang sih, pada akhirnya banyak yang bisa mereka raih, tetapi sekaligus, mereka juga banyak kehilangan sisi menyenangkan (fun) dalam hidup ini. Bayangkanlah seorang manager yang stres dan mulai kebosanan karena hidupnya hanya dari satu KPI (Key Performance Indicator) ke KPI lain, satu scorecard ke scorecard yang lain. Ataupun, bayangkan seorang tua yang melihat anaknya seperti sesuatu target yang bergerak. Akan sangat meletihkan.

Sebaliknya, bagi saya, kita bisa tetap sambil menikmati 'moment' sambil berusaha menggerakkan diri kita mencapai yang lebih baik. Kita bisa mencapai 'gunung impian' kita tanpa kehilangan kesempatan untuk berhenti, menikmati indahnya pemandangan dan bercanda ria. Jadi, mulai sekarang perlakukan hidup kita sebagai 'moment' bukan sebagai 'milestone' sehingga pada akhir ajal menjelang kita, akan ada banyak hal moment indah yang bisa dikenang! Salam Antusias selalu!



Best regards,

Anthony Dio Martin


Kamis, Oktober 28, 2010

Surat Cinta

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam
masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya
mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar
sensitif serta berperasaan halus.
Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.

Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang
ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
yang saya inginkan," jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang
bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :
"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg
ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ......

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu'
datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau
meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal
lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu
dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya
agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing
kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna
bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah
kamu."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah
yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa
menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata
lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan
saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga"

tujuh kebuhongan yang di lakukan suami

Seperti wanita, pria juga suka berbohong. Entah itu sekali-sekali, dengan alasan terpaksa, atau memang mati-matian berbohong untuk menutupi kesalahannya. Berikut ini 7 kebohongan yang paling sering dilakukan oleh para suami beserta alasannya.


1. "Ya, Sayang, gaun ini cocok sekali buat kamu"
Alasannya: Menghindari pertengkaran

Bagi pria, berbohong pada tahapan ini bukan hanya karena mereka tidak ingin menyakiti hati pasangannya. Tidak berarti pasangan Anda tidak peduli dengan apa yang Anda kenakan, mereka peduli, kok. Hanya saja, menurut pandangan mereka, hal ini tidak prinsip dan tidak perlu dipermasalahkan. Soalnya, bila mereka mengatakannya secara jujur, Anda akan marah dan biasanya kemarahan yang Anda lontarkan tidak sesuai dengan porsinya.

Intinya: Pria berbohong karena mereka menyintai anda. Bila Anda ingin kejujuran, tanyakan kepadanya, apakah dia menginginkan berat badan Anda turun atau tidak.

2. " Saya bisa memperbaikinya, kok."
Alasannya: Masalah ego

Apakah membetulkan genteng yang bocor atau pompa air yang macet, ternyata ada bagian-bagian tertentu di mana pria merasa terpaksa harus menguasainya. Bila mereka tidak dapat memperbaikinya, mereka tidak akan mengatakannya dengan terus terang dan akan berdalih.

Yakinkan suami, Anda tetap mencintainya sebagaimana dia adanya dan bahwa dia tidak perlu berusaha mengatasi semua masalah. Tidak perlu malu untuk membagi tugas berdasarkan kemampuan masing-masing. Toh, Anda berdua bisa membayar tukang untuk memperbaikinya.

3. "Tidak, aku enggak memperhatikan payudaranya,"
Alasannya: Demi keharmonisan rumah tangga.

Tidak peduli berapa pun usia perkawinan Anda, tidak berarti suami tidak bisa tertarik pada wanita lain. Jangan lupa, seperti kata ibarat, Anda tidak dapat berjanji berhenti menjilat cokelat, Anda hanya dapat berhenti untuk makan cokelat. Bila kebetulan Anda dan suami berpapasan dengan wanita cantik dan menarik, percayalah dia pasti akan memperhatikannya. Paling tidak, meliriknya. Pria selalu memberikan respons terhadap fisik seorang wanita.


4. "Enggak ada apa-apa, kok. Aku baik-baik saja."
Alasannya Untuk menutupi kesedihannya.

Kesedihan, depresi, serta kekecewaan seorang pria tampaknya sering merupakan kesempatan baginya untuk mencari hiburan bagi dirinya. Pria merasa, bila kesedihannya diceritakannya pada istrinya, maka mereka akan dipandang lemah. Oleh karena itu, bila mereka sedang ada masalah, tertekan, mereka akan mencari seseorang untuk mencurahkan segala masalah yang dihadapinya. Bagi pria, lebih baik berbohong daripada berterus terang.

Apakah pria bersedia menceritakan kesulitannya kepada pasangannya? Pada dasarnya mereka tidak keberatan. Namun biasanya bukan jalan keluar yang mereka dapatkan, melainkan justru perselisihan.

5. "Berkali-kali saya coba menelepon."
Alasannya: Membela diri

Pada umumnya wanita akan memberikan reaksi yang berlebihan bila suaminya melakukan kesalahan kecil dan memperlihatkan sikap bermusuhan. Bila mereka mengaku lupa menelepon sementara mereka ternyata berkumpul dengan sobat-sobat prianya, mereka tahu pasangannya tidak akan dapat menerimanya dan hal yang kecil bisa menjadi besar. Oleh karena itu, mereka lebih memilih berpura-pura sudah menelepon bila tidak dapat memberikan alasan yang masuk akal.

6. "Mantanku? Biasa-biasa saja, tuh."
Alasannya: Penjagaan diri

Masalah masa lalu Anda yang mana yang menjadi masalah umum dan wajar pada saat Anda menikah? Apakah wajib bagi seorang pria untuk menceritakan kepada istrinya bila dia pernah terkena penyakit kelamin atau memiliki anak di luar pernikahan? Apakah Anda berhak mengetahui berapa banyak wanita yang telah ditidurinya? Bagaimana pengalamannya? Menyenangkankah? Apakah mereka pernah berselingkuh?

Bagi pria, sekali mereka mengatakan pada istrinya bahwa dulu mereka pernah berselingkuh, maka mereka tahu dengan pasti, Anda akan mencapnya sebagai orang yang selalu berselingkuh dan tidak dapat dipercaya. Pria mengerti arti sebuah kejujuran. Namun bila kejujuran mereka justru menyakiti hati pasangannya, mereka memilih untuk berbohong dan mereka ingin menjaga masa lalu serta menyimpannya sebaik mungkin.

7. "Saya tidak pernah bohong kepada kamu."
Alasannya: Untuk hidup bahagia sepanjang masa.

Ini merupakan cara romantis yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya dan pria menyadari wanita memang menginginkan diperlakukan demikian. Tetapi walaupun suami Anda bersungguh-sungguh, waktu yang akan membuktikan apakah dia berbohong, mengelak, melebih-lebihkan, atau apakah perkataannya dapat dipercaya. Semuanya tergantung dari karakter masing-masing pria dan keutuhan dari pernikahan Anda. Yang jelas, semua ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuktikannya.

Kekayaan, kesuksesan, dan cinta

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia
melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan.
Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: "Aku
tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar.
Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut."

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah
pulang?"

Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar."

"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai
suami mu kembali," kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan
semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini,
lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah
kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam
ini."

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke
dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama," kata pria itu
hampir bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil
menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang
ini bernama Kesuksesan", sambil memegang bahu pria berjanggut
lainnya. "Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya
kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu."

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.
Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah,
kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin
rumah ini penuh dengan Kekayaan."

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku,
kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita
perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita."

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut
mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
"Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam?
Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta."

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah,
ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi
teman santap malam kita."

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa di
antara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi
tamu kita malam ini."

Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata,
kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si
Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi
kenapa kamu ikut juga?"

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda
mengundang si kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan
tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana
pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Di ana ada Cinta,
maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah,
sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia
yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang
lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami
menjalani hidup ini."

Cinta Yang Tak Rumit

Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu
seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal
mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati
orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin
juga sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini
dari seorang anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.

Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh
dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di
sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub
menyaksikan bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati
atau ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai
senyum lebar Faiz.

"Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu...."

"Assalaamu'alaikum...."

"Mari Oma, mari Opa..."

"Dari mana, Tante?"

"Wah hari ini Kakak berseri sekali!"

"Mau kuliah, Bang?"

"Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?"

Dan seterusnya....

Saat ia duduk di kelas II SD, saya pernah bertanya pada Faiz," Mas
Faiz,apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?"

Faiz tertawa. "Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku
mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain.
Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda."

Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum
berumur delapan tahun. "Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu
mungkin sudah milyaran," ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang
memerah.

Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah,
mereka kerap membicarakan Faiz.

"Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu
menegur lebih dulu, senyumnya manis sekali."

"Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya?"

Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah
mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang
banyak belajar dari Faiz!

Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk
di bangku SD.

Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu
dipanggilnya, diajak makan dan minum. "Hari ini di rumah masak sop dan
perkedel." Atau "Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk?

Mau teh manis dingin?" Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan
mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.

Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun
disuruh mampir. Ada saja yang ditawarkannya. "Istirahat dulu di sini,
Pak. Kan capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau
mau makan nasi?" Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota
keluarga lainnya untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami
tak terlalu membutuhkannya. "Apa salahnya sih menolong orang?" ujarnya.

Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana
kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa
yang entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.

"Ikhlas yaaa, Bunda...," katanya sambil tersenyum manis.
Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata Saya
hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.

Entah apakah Anda berpikir, Anda bisa atau tidak bisa, Anda benar

i British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan
penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para
narapidana selama ratusan tahun. Setelah para napi dipindahkan ke
tempat tinggal mereka yang baru, mereka menjadi bagian dari pasukan
pekerja untuk mencopoti kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih
dapat digunakan dari penjara lama. Di bawah pengawasan para penjaga,
napi-napi itu mulai melucuti dinding-dinding penjara lama.

Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka
temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan
batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-
dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat,
dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para
narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras,
mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri.
Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel
dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah
sesuatu yang mustahil.

Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR
itu mustahil.

Saat ini, banyak orang merupakan tawanan rasa takut. Mereka tak
pernah berusaha mengejar impian-impian mereka karena berpikir bahwa
itu merupakan sesuatu yang mustahil. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda
tak dapat berhasil bila Anda tidak mencoba

Bersabarlah, Tapi Jangan Mengurut Dada!

Bayangkan diri Anda sedang berada di dalam ruangan konser. Anda sedang
asyik menikmati indahnya alunan musik ketika tiba-tiba ingat bahwa
pintu mobil Anda belum dikunci. Anda khawatir terjadi sesuatu terhadap
mobil Anda. Celakanya, Anda tak dapat keluar begitu saja dari ruangan itu.
Anda menjadi gelisah dan tak dapat lagi menikmati musik konser. Anda
begitu tak sabar menunggu konser tersebut berlalu.

Coba renungkan sebentar skenario di atas. Ilustrasi tersebut
menggambarkan definisi baru mengenai kesabaran. Kesabaran adalah kemampuan
menyatukan badan dan pikiran kita (body and mind) di satu tempat. Nah, begitu
badan dan pikiran Anda berada di lain tempat, Anda akan sangat gelisah
dan kehilangan kesabaran.

Lihatlah contoh di atas. Ketika badan dan pikiran Anda ada di ruangan
konser, Anda begitu menikmati segala sesuatunya. Tapi begitu Anda sadar
bahwa mobil belum terkunci, seketika itu juga pikiran Anda beralih ke
tempat parkir. Pada saat itu kenikmatan Anda menonton berubah menjadi
penderitaan, ketegangan, dan kegelisahan. Kalau semula Anda begitu sabar
menikmati indahnya alunan musik detik demi detik, kini kesabaran itu
benar-benar habis. Badan Anda masih di tempat konser, sementara pikiran
ada di tempat lain.

Dengan contoh sederhana ini saya ingin mengajak Anda semua merevisi
total pemahaman kita mengenai kesabaran. Selama ini, sabar seringkali
diartikan dengan bersedia menderita, bersikap tabah, mengalah, dan
seterusnya. Sabar sering diekspresikan dengan mengurut dada. Anda mengalami
musibah, kemudian orang datang dan mengatakan,''Bersabarlah menghadapi
cobaan ini.'' Anda diperlakukan sewenang-wenang, kawan-kawan Anda
mengatakan, ''Bersabarlah, biar nanti Tuhan yang akan membalas orang itu.''

Tak ada yang salah dengan kata-kata tersebut. Yang salah adalah
maknanya. Seolah-olah bersabar hanyalah dikaitkan dengan penderitaan hidup.
Karena itu ekspresinya adalah mengurut dada. Ekspresi seperti ini
mereduksi begitu banyak makna mengenai kesabaran.

Padahal kesabaran adalah rahasia terpenting untuk menikmati hidup.
Kalau Anda bersabar Anda akan benar-benar menikmati saat-saat terindah
dalam hidup Anda.

Definisi baru mengenai kesabaran adalah menyatukan badan dan pikiran di
satu tempat. Apa yang terjadi kalau badan Anda di kantor tapi pikiran
di rumah, atau sebaliknya Anda di rumah tapi pikiran di kantor? Saya
yakin, Anda tak akan menikmati hidup. Dalam menjalankan pekerjaan,
seringkali saya harus bepergian jauh ke luar kota selama beberapa hari. Saat
itu saya sering merindukan keluarga di rumah. Dan begitu itu terjadi
saya merasa stres dan kehilangan kesabaran. Saya ingin buru-buru pulang,
dan kenikmatan melakukan pekerjaan pun hilang.

Coba amati apa yang Anda rasakan saat terjebak kemacetan di jalan. Anda
sering menjadi stres. Badan Anda masih di mobil tapi pikiran sudah di
kantor, di tempat klien atau di rumah. Anda menderita. Sekarang coba
lakukan penyatuan badan dan pikiran Anda kembali. Kuncinya adalah
kesadaran. Sadarilah sepenuhnya apa yang sedang Anda alami.

Rasakan tubuh Anda yang sedang duduk di mobil, rasakan sentuhan tangan
Anda pada kemudi, dan kaki Anda yang sedang menginjak pedal. Hidupkan
musik kesukaan Anda, dan amatilah gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Anda akan merasakan keajaiban. Perlahan-lahan kesabaran Anda tumbuh
kembali. Bukan itu saja Anda juga akan merasakan rileks.

Jangan salah, untuk relaksasi Anda tidak membutuhkan waktu dan tempat
yang khusus. Yang Anda perlukan cuma bersabar. Sabar berarti hidup di
masa sekarang dan menikmati keberadaan Anda. Anda sering tak sabaran
kalau menunggu sesuatu? Coba satukan badan dan pikiran. Anda akan merasakan
bedanya. Dalam suatu perjalanan ke Honolulu, perubahan jadwal
penerbangan menyebabkan saya ''terdampar'' di lapangan terbang Osaka selama 12
jam. Awalnya saya stres memikirkan cara mengisi waktu yang panjang itu.
Tapi begitu ingat rumus ini, kesabaran sayapun tumbuh kembali, dan
saya begitu menikmati berjalannya waktu.

Definisi lain dari kesabaran adalah kesediaan Anda untuk menjalani
prosesnya satu demi satu. Dunia ini diciptakan berproses. Kesabaran berarti
menikmati proses tersebut. Anda tak bisa mendadak menjadi kaya,
pandai, dan kompeten. Anda harus mau bersabar menjalani prosesnya dari ke
hari. Dalam hal ini berlaku hukum pertumbuhan, Anda hanya menuai apa yang
Anda tanam. Tak ada hal yang instant! Kalau Anda melewati prosesnya
karena ingin cepat kaya, atau ingin cepat terlihat pandai. Anda melawan
hukum alam, karena itu bersiap-siaplah menerima konsekuensinya pada suatu
saat nanti.

Jadi, marilah kita bersabar. Dan hidup akan terasa lebih nikmat. Jangan
mengurut dada, karena kesabaran adalah kenikmatan bukannya
penderitaan. Apapun karir dan profesi Anda, yang menyebabkan Anda berhasil
bukanlah kepandaian tetapi kesabaran Anda. Inilah rahasianya mengapa agama
selalu mengatakan, ''Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar!''

apa yang kita lihat adalah apa yang ingin kita lihat

Seorang psikolog amerika yang terkenal melakukan sebuah eksperimen luar
biasa. Dia dan timnya memberikan sebuah tes IQ kepada seluruh murid di
suatu sekolah sebelum akhir masa sekolah. Kemudian mereka memilih
sepuluh siswa dan mengatakan pada setiap guru dari siswa itu, “Kesepuluh
siswa ini akan berada di kelas Anda. Kami tahu dari tes mereka bahwa
secara teknis mereka memang siswa yang cerdas. Anda akan melihat bahwa
mereka semua akan menjadi yang teratas di dalam kelas mereka pada tahun
ajaran berikutnya. Anda harus berjanji untuk tidak mengatakan hal ini
kepada setiap murid, karena akibatnya akan merugikan mereka. ”Para guru itu
pun berjanji untuk tidak mengatakan apa pun.

Kenyataannya adalah bahwa tak satu pun siswa dari daftar tersebut
benar-benar cerdas. Kesepuluh anak itu pun hanya dipilih secara acak dan
kemudian diserahkan pada guru.

Setahun kemudian para psikolog itu kembali ke sekolah tersebut. Mereka
menguji seluruh siswa. Beberapa dari mereka yang dikatakan cerdas
tersbut nilainya naik tiga puluh enam poin. Para psikolog itu mengadakan
wawancara dan bertanya kepada para guru, “Menurut Anda bagaimana
murid-murid ini?” Para guru itu segera menyahut dengan menggunakan kata-kata
sifat seperti “pintar”, “dinamis”, “menyenangkan”, “menarik”, dan
sebagainya.

Apa yang telah terjadi pada siswa-siswa tersebut seandainya para guru
tidak berpikir bahwa mereka memang cerdas di kelas? Justru guru itulah
yang telah mengembangkan seluruh potensi siswa-siswa tersebut.


--------------------------------------------------------


Seseorang yang biasa sekalipun, jika ia dilatih, dimotivasi, dan
dimaksimalkan, hasilnya akan seperti 10 siswa beruntung tadi. Meskipun ia
dipenuhi keterbatasan. Kita lihat bagaimana seorang Thomas Alfa Edison,
yang dianggap siswa lamban di kelasnya, akhirnya menjadi salah seorang
penemu terbanyak di sejarah modern. Entah bagaimana jadinya jika ia
diperlakukan seperti kesepuluh anak tadi, wah.. bisa bisa bom atom muncul
lebih dulu sebelum jamannya einstein.

Kita lihat juga seorang Hellen Keller yang sudah tuli, bisu, buta lagi
sejak dia berumur kurang dari 2 tahun. Sebagai seorang biasa, kita
mungkin akan bingung bagaimana mengatasinya, bagaimana mengajarinya.
Barangkali kita akan berpikir sebaiknya ia dibiarkan hidup, dimanja,
dilayani, meski ia tidak akan tahu apa-apa sampai ajalnya. Namun tidak dengan
orang-orang dekatnya. Mereka menemuan suatu cara mengkomunikasikan
dengan anaknya lewat indra perabanya. Ia pun tidak dimaja, justru dididik
dengan keras, hingga akhirnya kita tahu bahwa hellen keller, dengan
segala keterbatasannya bisa menjadi seorang pengacara tenar dan penulis
ternama di masanya.

IQ kita memang boleh biasa-biasa saja, namun jangan salahkan kita
apabila suatu saat kita bisa melampaui seseorang yang dianggap paling jenius
di negeri ini.

Jangan pernah menganggap anda adalah seorang rakyat kecil, hanya karena
anda tidak punya kekuasaan atas orang disekitar anda.

Jangan pernah menganggap anda miskin hanya karena anda tidak bisa
membiayai sekolah anda.

Dan Jangan pernah menganggap Anda bodoh, hanya karena anda kalah pintar
dengan pesaing Anda. Ingat kata2 seorang Thomas Alfa Edison yang
dahulu pernah dicap bodoh oleh guru-gurunya

"Keberhasilan itu hanya 1% kejeniusan. 99% -nya adalah kerja keras"

Anggaplah bahwa anda adalah orang yang besar (tidak harus dalam arti
fisik tentu) yang mampu membawa orang disekitar kita menjadi lebih baik,
orang yang sangat kaya sehingga mampu bersedekah, dan orang yang sangat
pintar sehingga mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki. Namun tentu
saja, janganlah Anda sombong dan Takabur hanya karena anda menganggap semua
itu secara berlebihan. However, Allah is The Greatest.

Insya Allah, itu jualah yang akan dirasakan Anda dan orang-orang
disekitar Anda.

Kondisikanlah orang-orang disekitar Anda untuk menganggap anda sebagai
orang yang lebih, dan kelebihan itu kelaman akan muncul dalam diri anda
dengan lebih cepat dari sebelumnya. Jika anda tidak bisa
mengkondisikan orang-orang disekitar Anda untuk menganggap anda seperti para guru
diatas menganggap sepuluh siswa beruntung, alihkan guru itu dan siswa itu
menyatu dalam diri Anda. Anda adalah seorang guru yang menganggap diri
anda juga sebagai murid yang pandai. Insya Allah, kepandaian itu juga
akan datang asalkan anda juga belajar tentu.

Wallahu’alam

Merendah Itu Indah

Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di Indonesia.
Demikian baiknya turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan
kesempatan untuk memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya
meninggal di Indonesia, dan sudah teramat sering ditipu orang, maka iapun
meminta untuk melihat dulu baik surga maupun neraka. Ketika memasuki
surga, ia bertemu dengan *******, kiai dan orang-orang baik lainnya yang
semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di neraka lain lagi, ada
banyak sekali hiburan di sana. Ada penyanyi cantik dan seksi lagi
bernyanyi. Ada lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka
jauh lebih dipenuhi hiburan
dibandingkan surga.

Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan
untuk tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika
sampai di neraka. Ada orang dibakar, digantung, disiksa dan
kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya. Maka proteslah dia pada petugas neraka yang
asli Indonesia ini. Dengan tenang petugas terakhir menjawab : 'kemaren
kan hari terakhir pekan kampanye pemilu". Dengan jengkel turis tadi
bergumam : 'dasar Indonesia, jangankan pemimpinnya, Tuhannya saja tidak
bisa dipercaya!'.

Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini
hanya lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan(trust)
telah menjadi komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri
tercinta ini. Dan sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di
mana kepercayaan itu mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan
keluar amat dan teramat sulit.

Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan
ribuan tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau
kepercayaan tidak ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit,
berujung dengan adu mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang
cemburu.

Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi
kanker yang demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula
dari sini. Buruh yang mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga
diawali dari sini. Apa lagi krisis perbankan yang memang secara
institusional bertumpu pada satu-satunya modal : trust capital.

Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada
siklus ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada
Bambang. Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan.
Inilah lingkaranketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah
krisis.

Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus
perburuhan seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung
pangkal, ini tidaklah diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila
saja. Kita semua sedang memproduksi diri seperti itu.

Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan
rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan
pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja :
bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke
ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.

Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, 'seperti sentimen, benci,
dan sejenisnya ', menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari
permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya,
mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif 'sabar,
tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya' menempatkannya
sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah
sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang
menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman
halaman rumah yang
memerlukannya.

Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan
dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi
demikian. Penyelesaian persoalan manapun 'termasuk persoalan perburuhan ala
Shangrila' bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa
banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.

Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara
menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat
berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif,
kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.

Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan
sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu
sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki
dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang
sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai
penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai
pengkondisian yang mematikan.

Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan
yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana
pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir
sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih
banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang
membuatnya demikian, karena laut berani merendah.

Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke
Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau
uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau
rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya
ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian
untuk merendah.

Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-
injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun
melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham
entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung
web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : 'kita bertemu yang maha
tinggi, ketika kita rendah hati'. ***


by Gede Prama

"Toko KebahagiaaN"

Belanja di "Toko Kebahagiaan"

Seorang muda yang selalu resah dan gelisah menemui seorang bijak dan bertanya, ''Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan untuk memperoleh kebahagiaan?''
Orang bijak itu memandang si anak muda kemudian menjawab, ''Kira-kira sepuluh tahun.''

Mendengar hal itu anak muda tadi terkejut, ''Begitu lama,?'' tanyanya tak percaya.
''Tidak,'' kata si orang bijak, ''Saya keliru. Engkau membutuhkan 20 tahun.''
Anak muda itu bertambah bingung. ''Mengapa Guru lipatkan dua,?'' tanyanya keheranan.
Orang bijak kemudian berkata, ''Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan 30 tahun.''

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika membaca cerita di atas?
Tahukah Anda mengapa semakin banyak orang muda itu bertanya, semakin lama pula waktu yang diperlukannya untuk mencapai kebahagiaan?

Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan?
Sebagaimana yang telah banyak disampaikan, kebahagiaan hanya akan dicapai kalau kita mau melakukan pencarian ke dalam.
Namun, itu semua tidak dapat Anda peroleh dengan cuma-cuma. Anda harus mau membayar harganya.

Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah ''Toko Kebahagiaan.''

Di sana tidak ada barang yang bernama ''kebahagiaan'' karena ''kebahagiaan'' itu sendiri tidak dijual.
Namun, toko ini menjual semua barang yang merupakan unsur-unsur pembangun kebahagiaan, antara lain:
kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, kepasrahan, dan rela memaafkan.

Inilah ''barang-barang'' yang Anda perlukan untuk mencapai kebahagiaan.

Tetapi, berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi.
Yang dijual di sini adalah benih. Jadi, kalau Anda tertarik untuk membeli ''kesabaran'' Anda hanya akan mendapatkan ''benih kesabaran.''
Karena itu, segera setelah Anda pulang ke rumah Anda harus berusaha keras untuk menumbuhkan benih tersebut sampai ia menghasilkan buah kesabaran.

Setiap benih yang Anda beli di toko tersebut mengandung sejumlah persoalan yang harus Anda pecahkan.
Hanya bila Anda mampu memecahkan persoalan tersebut, Anda akan menuai buahnya.
Benih yang dijual di toko itu juga bermacam-macam tingkatannya.
''Kesabaran tingkat 1,''misalnya, berarti menghadapi kemacetan lalu lintas, atau pengemudi bus yang ugal-ugalan.
''Kesabaran tingkat 2'' berarti menghadapi atasan yang sewenang-wenang, atau kawan yang suka memfitnah.
''Kesabaran tingkat 3'', misalnya, adalah menghadapi anak Anda yang terkena autisme.

Menu yang lain misalnya ''bersyukur.''
''Bersyukur tingkat 1'' adalah bersyukur di kala senang, sementara
''Bersyukur tingkat 2'' adalah bersyukur di kala susah.

''Kejujuran tingkat 1,'' misalnya, kejujuran dalam kondisi biasa, sementara
''Kejujuran tingkat 2'' adalah kejujuran dalam kondisi terancam.

Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di ''Toko Kebahagiaan''.

Setiap produk yang dijual di toko tersebut berbeda-beda harganya sesuai dengan kualitas karakter yang ditimbulkannya.
Yang termahal ternyata adalah ''kesabaran'' karena kesabaran ini merupakan bahan baku dari segala macam produk yang dijual di sana.

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, ''Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai.
Hanya harga yang mahallah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.''

Dengan cara pandang seperti ini kita akan menghadapi masalah secara berbeda.
Kita akan bersahabat dengan masalah.
Kita pun akan menyambut setiap masalah yang ada dengan penuh kegembiraan karena dalam setiap masalah senantiasa terkandung ''obat dan vitamin'' yang sangat kita butuhkan.

Dengan demikian Anda akan ''berterima kasih'' kepada orang-orang yang telah menyusahkan Anda karena mereka memang ''diutus'' untuk membantu Anda.
Pengemudi yang ugal-ugalan, tetangga yang jahat, atasan yang sewenang-wenang adalah peluang untuk membentuk kesabaran.
Penghasilan yang pas-pasan adalah peluang untuk menumbuhkan rasa syukur.
Suasana yang ribut dan gaduh adalah peluang untuk menumbuhkan konsentrasi.
Orang-orang yang tak tahu berterima kasih adalah peluang untuk menumbuhkan perasaan kasih tanpa syarat.
Orang-orang yang menyakiti Anda adalah peluang untuk menumbuhkan kualitas rela memaafkan.

Sebagai penutup marilah kita renungkan ungkapan berikut ini:

Aku memohon kekuatan, dan Tuhan memberiku kesulitan-kesulitan untuk membuatku kuat.
Aku memohon kebijaksanaan, dan Tuhan memberiku masalah untuk diselesaikan.
Aku memohon kemakmuran, dan Tuhan memberiku tubuh dan otak untuk bekerja.
Aku memohon keberanian, dan Tuhan memberiku berbagai bahaya untuk aku atasi.
Aku memohon cinta, dan Tuhan memberiku orang-orang yang bermasalah untuk aku tolong.
Aku mohon berkah dan Tuhan memberiku berbagai kesempatan.
Aku tidak memperoleh apapun yang aku inginkan, tetapi aku mendapatkan apapun yang aku butuhkan.

Tulang Rusuk - ku ....

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut.
Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih?
Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian.
Ya,tentang cinta.

Dara : "Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?"
Raka : "Kamu dong?"
Dara : "Menurut kamu, aku ini siapa?"
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti)
"Kamu tulang rusukku!
Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian.
Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa.
Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat.
Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera.
Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.
Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah.
Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
"Kamu nggak cinta lagi sama aku!"

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak,
"Aku menyesal kita menikah!
Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat.
Matanya basah.
Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.

Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan.
Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah.
"Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi.
Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing."

Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara.
Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula.
Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi
kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit
di dadanya.
Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu.
Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.

Raka : "Apa kabar?"
Dara : "Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?"
Raka : "Belum."
Dara : "Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut."
Raka : "Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah."

Dara tersenyum manis, lalu berlalu...."Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati.

Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya.
Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai.

Dan akibatnya seringkali adalah fatal ...


Pesan Moral dari cerita ini :

Kurangi minum kopi entar dadanya sakit.........

Kesuksesan ...

Klap....tiba-tiba gelap lampu pertunjukan dipadamkan.
Penonton terdiam...cling...klang...suara besi beradu..sreeekk...terdengar seperti benda diseret.
Klaapp....lampu menyala lagi.
Penonton bersorak... arena sirkus telah dipasang jaring pengaman, tanda pertunjukan macan dimulai.
Ternyata bunyi-bunyi tadi adalah pekerja yang sedang memasang jaring.

"Penonton sekalian, tibalah saatnya pertunjukan spesial malam ini.
Pertunjukan sirkus yang belum pernah ada dimanapun.
Perburuan liar oleh raja hutan."


Pintu kandang terbuka...seekor sapi berukuran sedang meloncat dan berlari.
Sapi hanya berlari mengelilingi arena.
Dram...dam...dam...suara drum dipukul begitu kerasnya.

Penonton semakin tidak sabar.
Sraak...jantung penonton dibuat berdegup kencang.
Pintu kandang sang raja hutan terbuka...si raja hutan langsung meloncat ke arena.

Begitu melihat ada sapi si raja hutan langsung meloncat ke punggung sapi.
Punuk sang sapi digit cakarnya ditancapkan ke tubuh sang sapi.
Sapi tidak tinggal diam.
Loncat, tendang segala cara diupayakan agar terlepas dari cengkeraman sang macan.
Darah mulai keluar dari tubuh sapi.
Sang macan masih saja bertenger di atas tubuh sapi.

Kejadian ini berlangsung hampir 15 menit.
Tubuh sang macan mulai melorot, sekarang yang digigit adalah pantat sapi.

Sementara cakarnya mencengkeram kaki belakang sapi.
Penonton heran kenapa macan tidak bisa merobohkan sapi.
Sang macan mulai kelelahan dan putus asa.
Dilepaskanlah cengkeramannya.
Sapi langsung berlari menjauh.
Sang macan hanya duduk sambil terengah-engah.
Penonton bertanya-tanya?
Kenapa sang macan tidak bisa membunuh sapi bukankah sapi tersebut tidak terlalu besar ?

Dari informasi yang didapatkan ternyata sang macan adalah macan sirkus.
Sang macan benar-benar lahir di sirkus tanpa mengenal dunia liar.
Setaip hari dapat jatah kiloan daging dan susu.
Hidupnya benar-benar bergelimang kenikmatan dan kasih sayang.
Kisah di atas adalah kisah nyata yang saya tonton di berita TV beberapa tahun yang lalu.

Ternyata kemampuan sang macan dalam berburu tidak diturunkan.
Macan memang mempunyai naluri membunuh dan dilengkapi senjata untuk membunuh.
Tetapi semua yang dimiliki macan sama sekali tidak membantunya.
Ternyata latihan yang diberikan induk sang macan benar-benar sangat berharga.
Terlihat sekali di tanyangan Animal Planet bagaimana macan liar membunuh mangsa dengan menggigit lehernya sementara macan sirkus hanya naik ke punggung mangsanya.
Macan yang memiliki begitu banyak alat pembunuh harus belajar dulu untuk bisa membunuh.

Kesuksesan ternyata tidak bisa diturunkan.
Tetapi jalan untuk sukses bisa diajarkan.
Kita mungkin sukses tetapi keturunan kita ?

5 Pertanda Anda Mnemukan Pasangan Yg Tepat?!

Sdikit referensi bg rekan rekan netter :

Harapan dari setiap orang yang menikah adalah satu untuk selamanya. Pastinya tak ada orang yang mau kawin-cerai untuk sepanjang kehidupan. Tapi menemukan belahan jiwa, seseorang yang tepat untuk dijadikan teman berbagi sepanjang hidup, kadang tidaklah mudah. Ada kalanya pasangan yang telah menjalin hubungan bertahun-tahun pada akhirnya putus di tengah jalan, hanya karena merasa tidak lagi cocok. Memang, menemukan pasangan yang tepat itu gampang-gampang-susah. Berikut kami sampaikan beberapa panduan untuk mengetahui jika seseorang pasangan yang tepat bagi Anda.
1. Perasaan Seperti Menemukan 'Rumah'
Saat Anda bersama orang ini, Anda menemukan perasaan nyaman dan familiar. Anda merasa seperti telah mengenalnya sepanjang hidup, dan merasakan inilah orang yang Anda cari. Anda merasakan tak ada halangan saat bercakap-cakap dengannya.
2. Mengalir
Hubungan yang Anda jalani mengalir dengan mudah. Masing-masing menyelesaikan setiap kalimat yang diucapkan. Waktu seperti begitu cepat berlalu saat Anda bersama orang yang Anda kasihi ini. Memang benar, setiap hubungan membutuhkan usaha untuk membuatnya berhasil, tapi jika bersama orang yang tepat usaha itu dilakukan dengan penuh kesenangan.
3. Menikmati Canda-Tawa Bersama
Anda berdua dapat menikmati lelucon bersama. Mungkin Anda dan kekasih tak memiliki selera humor yang sama, tapi saat dia membuat lelucon setidaknya mampu membuat Anda tersenyum. Anda dan pasangan juga bisa melakukan aktivitas berdua dan menikmatinya. Tentunya juga memiliki beberapa hal yang sama-sama Anda minati.
4. Jadi Sahabat
Saat Anda menemukan pasangan yang tepat, akan tumbuh perasaan saling percaya dan kesetiaan. Anda merasa yakin, kalau orang ini akan berada di samping Anda saat hal buruk menimpa Anda. Saat mengalami kejadian-kejadian luar biasa, bersama orang inilah Anda ingin berbagi. Anda selalu tersenyum saat melihatnya muncul di suatu tempat.
5. Bertindak Berdasarkan 'Kami'
Bersama orang yang tepat, Anda akan selalu membuat keputusan demi kebaikan bersama, bukan semata-mata untuk diri sendiri. Bersedia berbagi tujuan dan pekerjaan bersama. Anda juga selalu memikirkan bagaimana tindakan yang Anda lakukan akan mempengaruhi yang lainnya.
Nah, saat semua tanda di atas ada dalam hubungan yang Anda jalin, tak perlu dengan memaksa, maka jalan menuju pernikahan akan mengalir dengan sendirinya.
Maka daripada itu, sudahkah anda temukan kelima hal diatas bersama pasangan anda?atau kalau kurang lengkap,mungkin bisa d tambahkan...

Kekayaan Manusia yang Terbesar

SEORANG sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi bangun, berangkat ke
kantor, pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang bisa
merasakan sinar matahari di kulit, kemudian bertanya: untuk apa hidup
ini? Ada juga orang tua yang sudah benar-benar lelah mengungsi (kecil
mengungsi di rumah orang tua, dewasa mengungsi ke lembaga pernikahan,
tua mengungsi di rumah sakit), dan juga bertanya serupa.

Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup memang bermacam-
macam. Ada yang mencari kekayaan, ada yang mengejar keterkenalan, ada
yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di
jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya. Dan
tentu saja sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih jalur
bagi diri sendiri.

Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang
berjalan atau berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam). Pedagang,
pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun
spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang
diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan
mengambil jalan-jalan pintas.

Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa
dimengerti. Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih
banyak hal. Dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih
jauh di jalan-jalan kehidupan. Dan soal jalur mana untuk menjadi kaya
yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari
jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha,
sampai dengan jadi pejabat tinggi. Namun, salah seorang orang bijak
dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan: contentment is the
greatest wealth. Tentu agak unik kedengarannya. Terutama di zaman
yang serba penuh dengan hiruk pikuk pencarian keluar. Menyebut cukup
sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira dan dituduh
miring.

Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai
antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti
ini. Cuma, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta
berjalan jauh di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang
merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup
kemudian berhenti berusaha dan bekerja.

Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar
melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan,
bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun
terimalah hasilnya dengan rasa cukup.

Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras
sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja
kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus
membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan.
Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga serta teman.
Dengan semua perwujudan Tuhan manusia mudah terhubung ketika rasa
syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan
banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia menemukan banyak
teman.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh
dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun memang
diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah
kebiasaan, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke sarang laba-
laba kehidupan.

Di mana semuanya (manusia, binatang, tetumbuhan, batu, air, awan,
langit, matahari, dll) serba terhubung, sekaligus menyediakan rasa
aman nyaman di sebuah titik pusat.

Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda. Dan setiap
pencarian kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah
sekali membuat manusia terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun
di titik pusat, tidak ada putaran. Yang ada hanya rasa cukup yang
bersahabatkan hening, jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah
mencoba, apa lagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup
di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan.
Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa membukakan pintu
dalam hal ini.

Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di dalam. Dan ini bisa
ditemukan orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara kerja keras
di satu sisi, serta rasa cukup di lain sisi. Bila orang-orang seperti
ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu
waktu dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun
pintar mengagumkan di dalam. Biasa tampak luarnya, namun luar biasa
pengalaman di dalamnya. Ini bisa terjadi, karena rasa cukup membawa
manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan akan penilaian orang
lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus
bodoh pun tidak ada masalah.

Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama Susana Tamaro.
Dalam novel indahnya berjudul 'pergi ke mana hati membawamu' ia
kurang lebih menulis: kata-kata ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu,
lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening
ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata
lain, pujian, makian, kekaguman, kebencian dan kata-kata manusia
sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian
lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup
seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.
Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum Trungpa, di
salah satu karyanya yang mengagumkan (Shambala, The sacred path of
the warrior), ia menulis: this basic wisdom of Shambala is that in
this world, as it is, we can find a good and meaningful human life
that will also serve others. That is our richness. Itulah kekayaan
yang mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan
yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus
pelayanan bermakna buat pihak lain. ***

Gede Prama adalah pencinta keheningan, tinggal di Jakarta (Sinar
Harapan)

Membangun Tempat Suci

Seorang laki-laki mengunjungi orang suci. "Aku ingin
membangun sebuah tempat ibadah ,"kata laki-laki itu.
"Perbaikilah niatmu."
"Aku telah memperbaiki niatku."
"Baiklah, jika niatmu telah benar, aku ingin tanya, bagaimana
jika setelah tempat ibadah selesai dibangun lalu masyarakat
menganggap orang lain yang telah membangunnya ? Mereka sama
sekali tidak menyebut namamu,"tanya beliau.
"Hal itu tentu akan terasa berat bagiku," jawabnya.
"Niatmu belum benar," kata orang suci tersebut.

Datang seorang lelaki lain. "Aku ingin membangun tempat ibadah
ikhlas demi Allah."
"Berikanlah kepadaku dana yang telah kamu siapkan untuk
membangun tempat ibadah itu . Nanti terserah padaku, akan
kugunakan uang itu untuk membangun mesjid, makan atau dibagi-
bagikan. Tetapi, di akhirat nanti, kamu akan memperoleh pahala
membangun tempat ibadah."
"Akan kupikir-pikir dahulu." Setelah berpikir, akhirnya lelaki
itu menolak usulan orang suci tersebut.

Seorang laki-laki lain datang menemui orang suci. "aku ini
seorang pedagang. Sudah lama aku berniat membangun tempat
ibadah semata-mata karena Allah. Untuk mewujudkan cita-citaku
ini, aku menabung tiap kali memperoleh keuntungan. Sekarang
tabunganku telah cukup untuk membangun tempat ibadah."
"Jika kamu benar-benar ingin membangun tempat ibadah,
berikanlah tabunganmu itu kepadaku, terserah aku, akan aku
gunakan uang itu untuk membangun, menyedekahkannya atau
memakannya. Tetapi, di surga nanti, kamu akan memperoleh
pahala membangun tempat ibadah tersebut dan pahala dari orang
orang-orang yang beribadah di dalamnya."

"Ya, jika benar ucapanmu itu, akan kuserahkan semua tabunganku
kepadamu, dan aku tidak perlu bersusah-payah memikirkan
pembangunan tempat ibadah. Aku akan pulang sekarang untuk
mengirimkan uang itu kepadamu. Gunakanlah uang itu sesukamu,"
kata lelaki itu kegirangan.

"Aku ini tidak membutuhkan tabunganmu. aku hanya ingin menguji
niatmu. Sekarang, bangunlah sebuah tempat ibadah olehmu dan
umumkanlah rencana pembangunan itu kepada masyarakat, karena
niatmu telah benar."

Cinta Mengapa Begitu Indah !!!

Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah
dikejar, tambah lari.

Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan
datang disaat kamu tidak
mengharapkannya.

Cinta dapat membuatmu bahagia tapi
sering juga bikin sedih, tapi cinta
baru
berharga kalau diberikan kepada
seseorang yang menghargainya.
Jadi jangan terburu-buru dan pilih yang
terbaik.
Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan
yang “sempurna” bagi seseorang. Tapi
bagaimana menemukan seseorang yang
dapat
membantumu menjadi dirimu sendiri.

Jangan pernah bilang “I love you” kalau
kamu tidak perduli.
Jangan pernah membicarakan perasaan
yang
tidak pernah ada. Jangan pernah
menyentuh hidup seseorang kalau hal itu
akan menghancurkan hatinya.
Jangan pernah menatap matanya kalau
semua yang kamu lakukan hanya
berbohong.

Hal paling kejam yang seseorang lakukan
kepada orang lain adalah membiarkannya
jatuh cinta, sementara kamu tidak
berniat untuk menangkapnya…
Cinta bukan “Ini salah kamu”, tapi
“Ma’afkan aku”.
Bukan “Kamu dimana sih?”, tapi “Aku
disini”.
Bukan “Gimana sih kamu?”, tapi “Aku
ngerti kok”.
Bukan “Coba kamu gak kayak gini”, tapi
“Aku cinta kamu seperti kamu apa
adanya”.

Kompatibilitas yang paling benar bukan
diukur berdasarkan berapa lama kalian
sudah bersama maupun berapa sering
kalian bersama, tapi apakah selama
kalian bersama, kalian selalu saling
mengisi satu sama lain dan saling
membuat hidup yang berkualitas.

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa
selama yang kamu inginkan dan menyayat
sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat
bukan bagaimana caranya menanggulangi
kesedihan dan kerinduan itu, tapi
bagaimana belajar darinya.

Caranya jatuh cinta: jatuh tapi jangan
terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan
memaksa, berbagi dan jangan bersikap
tidak adil, mengerti dan cobalah untuk
tidak banyak menuntut, sedih tapi
jangan
pernah simpan kesedihan itu.

Memang sakit melihat orang yang kamu
cintai sedang berbahagia dengan orang
lain tapi lebih sakit lagi kalau orang
yang kamu cintai itu tidak berbahagia
bersama kamu.

Cinta akan menyakitkan ketika kamu
berpisah dengan seseorang lebih
menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh
kekasihMu, tapi cinta akan lebih
menyakitkan lagi apabila seseorang yang
kamu sayangi tidak tahu apa yang
sesungguhnya kamu rasakan.

Yang paling menyedihkan dalam hidup
adalah menemukan seseorang dan jatuh
cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia
bukan untuk kamu dan kamu sudah
menghabiskan banyak waktu untuk orang
yang tidak pernah menghargainya.

Kalau dia tidak “worth it” sekarang,
dia
tidak akan pernah “worth it” setahun
lagi ataupun 10 tahun lagi.
Biarkan dia belajar untuk menghargai
cinta yang tulus.

Taman Tempat Memendam Rindu

SETIAP kali ada pergeseran musim, terutama dari musim kemarau ke
musim hujan, mendadak sontak ada kegembiraan yang muncul. Setiap mata
yang dibekali kejernihan, setiap telinga yang bersahabat dengan
kepekaan, setiap rasa yang sering bersahabat dengan getaran-getaran
semesta, melihat munculnya kegembiraan ketika musim hujan datang.
Kegembiraan ini memang tidak disertai oleh tepuk tangan, tidak
diikuti suara musik, apalagi pemberian piala. Sekali lagi, hampir
tidak ada hiruk pikuk di sana. Yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan
kegembiraan sebagai cermin rasa syukur yang mendalam.
Perhatikan pohon apa saja. Lengkap dengan akar, batang, daun, bunga
sampai dengan buah. Wajahnya berbeda ketika musim hujan datang.
Bahkan dibandingkan dengan pohon yang disiram tangan manusia tiga
kali sehari pun, berbeda penampakannya.
Tidak saja daun dan bunganya yang bertambah banyak, melainkan
kualitas ekspresi daun dan bunganya juga berbeda. Tidak saja akar
yang memeluk tanah yang tampak gembira, bahkan tanah tempat banyak
sekali hal berasal juga seperti menampakkan wajah-wajah gembira.
Sehingga dalam totalitas, ketika musim hujan tiba, seperti ada yang
bersuara di taman sana.
Ada yang menyebutnya suara rindu, ada yang mengiranya sebagai
ungkapan rasa syukur, ada yang mengatakan kalau itu sebentuk perayaan.
Entahlah, yang jelas alam yang berumur jauh lebih panjang dari
manusia sebenarnya menghadirkan makna jauh lebih banyak dari sekadar
alasan keberadaan fisik manusia.
Memang benar, hampir semua input kehidupan manusia datang dari alam.
Makanan, minuman, dan bahkan pemikiran manusia pun sebagian lebih
berasal atau terinspirasi dari alam.
Disinari cahaya-cahaya pemahaman seperti ini, ada sahabat yang
berbisik: alam ada lebih dari sekadar alasan phisical survival. Alam
juga menjadi petunjuk jalan yang meyakinan ketika manusia mau pulang.
Tersentak oleh bisikan sahabat kejernihan terakhir, ada sepasang mata
yang mencermati, bagian mana dari alam yang bisa menjadi petunjuk
jalan manusia untuk pulang.
Pohonkah, batukah, tanahkah, langitkah, matahari, atau malah
binatang. Karena semuanya memiliki bahasa yang berbeda dengan
manusia, tentu saja semuanya tidak bisa memberi jawaban dalam bahasa
manusia.
Sebagian lebih dari jejaring semesta bahkan hanya mengenal bahasa
hening dan diam tanpa penghakiman. Seperti mau berbisik: hening dan
diam tanpa penghakiman itulah jalan-jalan menghantar manusia pulang.

Ikhlas
Sebutlah guru kejernihan yang bernama pohon. Ia tidak pernah berhenti
berjalan dengan sebuah bahasa: ikhlas! Hujan datang, musim kering
yang panas, tanah yang subur, tanah yang kerontang, bahkan di depan
manusia yang mau menghabisi, atau bahkan di depan kematian pun
modalnya sama: ikhlas!
Bunga juga serupa. Begitu tugasnya menebar bau wangi selesai, ia layu
kemudian jatuh ke tanah untuk melakukan tugas berikutnya sebagai
pupuk. Air apalagi.

Sejauh apa pun jalan yang harus ia tempuh, tugasnya berjalan tetap ia
lakukan sepenuh hati. Lebih-lebih tanah yang kerap disebut Ibu
Pertiwi.
Ia hanya mengenal sebuah bahasa: memberi. Tidak ada protes tentang
hasil di sana, wacana, apalagi perlawanan. Yang ada hanyalah
ketekunan melakukan semua tugas-tugas kehidupan. Sekali lagi seperti
mau berbisik, lakukan tugas-tugas kehidupan dengan tekun. Biarkan
hasilnya ditentukan sepenuhnya oleh yang punya hidup.

Taman Kehidupan
Ini soal taman di pekarangan rumah, sebenarnya ada taman yang lebih
besar dan megah: kehidupan. Serupa dengan taman sebenarnya, kehidupan
juga mengenal perubahan dan perayaan.
Perubahannya tidak perlu diceritakan karena sudah terlalu jelas.
Namun perayaannya, inilah bedanya dengan taman. Taman melakukan
perayaan hampir setiap hari di setiap perubahan. Taman kehidupan
manusia baru ada perayaan kalau perubahan 'sesuai' dengan kriteria-
kriteria di kepala.
Taman tidak mengenal kompetisi, baik untuk alasan pertumbuhan ataupun
alasan lain. Tidak ada satu pun batang pohon yang sikut menyikut di
taman. Sedangkan taman kehidupan memerlukan kompetisi. Terutama
karena alasan pertumbuhan. Seolah-olah tanpa kompetisi pasti tidak
ada pertumbuhan.
Belajar dari taman kehidupan yang sudah mulai demikian panas dan
sumpeknya oleh perang, konflik, permusuhan, dan perceraian. Ada
sahabat-sahabat di pojokan tertentu taman kehidupan berfikir lain: in
the garden of mystics, there is no I, she or he. There is only we and
us. Seeing our selves as islands is the cause of our inability to
find the fullest experience of life. Setidaknya itu yang ditulis
Wayne W. Dyer dalam Wisdom of The Ages.
Di taman kehidupan, memang tidak ada pulau. Yang ada hanyalah
jejaring kebersatuan yang saling kait-mengait. Siapa saja yang
mendirikan pulau 'saya' di sana, ia pasti mengalami kesulitan untuk
mengalami hidup yang penuh. Persis seperti setetes air. Setetes air
memang bisa melakukan hal yang teramat sedikit. Jangankan
menghanyutkan sesuatu, mengobati rasa haus pun jauh dari cukup.
Cuma, ketika setetes air tadi bersatu dengan samudera, ia memiliki
kekuatan yang amat dahsyat. Hal yang sama terjadi dalam setiap
kehidupan yang menjadi satu dengan kebersatuan. Ia sedahsyat
samudera! Dalam keadaan demikian, bisa dimaklumi kalau ada yang
menyebut taman kehidupan dengan sebutan taman tempat memendam rindu.
Rindunya setetes air bersatu dengan samudera. Dalam bahasa Wayne W.
Dyer: the single quality that defines mysticism is the idea of
oneness. Ada sahabat yang pernah datang ke taman tempat memendam
rindu?

Kamis, Oktober 21, 2010

Kaca Jendela yang Kotor


If the doors of perception were cleansed, everything would appear as it is – infinite. – Jika pintu persepsi dibersihkan, segala hal akan nampak sebagaimana adanya – sangat luar biasa.” William Blake


Sebelum memulai membahas artikel ini saya akan menceritakan sebuah peristiwa yang dialami sepasang suami istri. Pasangan tersebut baru pindah ke sebuah kontrakan baru di kampung padat penduduk. Setiap pagi di depan rumah mereka banyak orang sibuk mencuci dan menjemur pakaian.
Pada hari I, sang istri berkomentar, “Aneh ya, kenapa orang-orang kalau mencuci pakaian sama sekali tidak bersih. Kotorannya masih tebal begitu.”
Seminggu berlalu, dan sang istri selalu berkomentar bahwa cucian warga yang dijemur di depan kontrakan mereka itu masih sangat kotor. Selama seminggu sang suami hanya diam saja mendengar komentar-komentar istrinya. Lalu pada hari ke-8, si istri memberikan komentar lagi seperti biasa.
“Nah, itu baru bersih. Pak, lihat cucian mereka sekarang menjadi bersih sekali. Tapi kenapa kemarin-kemarin cucian mereka begitu kotor ya?” gumam si istri.
“Tadi pagi saya bangun pagi-pagi sekali. Saya bersihkan semua kaca jendela rumah kita sampai betul-betul bersih,” jawab suaminya seraya pergi meninggalkan si istri yang masih terperangah.
Kehidupan ini berkaitan erat dengan persepsi, yaitu cara pandang berdasarkan pola pikir dan perilaku individu masing-masing. Setiap orang dapat mendeskripsikan situasi atau kejadian secara berbeda berdasarkan penglihatan mereka. Persepsi itu akan mempengaruhi pola pikir serta tindakan kita selanjutnya.



Realitas kehidupan ini terbentuk oleh persepsi kita atau cara pandang kita terhadap segala sesuatu. Apa yang Anda yakini, itulah yang Anda terima. Tetapi seandainya kita mampu mengubahnya (persepsi) menjadi positif, maka segala sesuatu dalam kehidupan ini akan nampak lebih menyenangkan.
Dr. Wayne Dyer mengatakan, “When you change the way you look at things, the things you look at change. – Ketika Anda mengubah cara pandang terhadap sesuatu, maka apa yang Anda lihat akan berubah.” Inilah beberapa hal pokok untuk menghancurkan persepsi negatif dan menciptakan kehidupan yang seharusnya Anda nikmati.
Pertama adalah selalu berusaha membiasakan diri fokus pada nilai-nilai positif, maka persepsi kita menjadi lebih positif. Contoh ketika kita fokus pada kekurangan seseorang, maka kita akan terus mencari kekurangannya. Tetapi jika kita fokus pada kebaikan seseorang, maka kita akan terus berusaha mencari kebaikan di dalam dirinya dan semakin tertarik pada orang tersebut, bahkan terinspirasi olehnya.
Mungkin sama seperti awal orang sedang dalam masa pacaran, pasti masing-masing memandang pasangan serasa tak memiliki kekurangan karena yang terlihat kelebihannya saja. Hari-hari senantiasa romantis, sebab dalam hubungan itu masing-masing hanya fokus pada sifat-sifat yang positif dan menarik. Semakin ia fokus pada kualitas positif, maka ia pun melihat pasangan semakin menakjubkan sehingga makin jatuh cinta. Begitupun sebaliknya.
Cara lain untuk menjaga persepsi Anda tetap positif adalah dengan selalu berpikir dan bersikap optimis. Saya sangat sependapat dengan Henry Ford yang pernah mengatakan, “If you think you can or if you think you can’t either way you’re always right. – Jika Anda berpikir Anda bisa atau jika Anda berpikir tidak bisa, itu pasti terjadi.” Berpikir dan bersikap optimis tentu membantu persepsi Anda lebih jernih, sehingga nampak jelas peluang-peluang baru yang dapat menolong situasi Anda atau memandu Anda menuju sukses dan kebahagiaan.
Berpikir terbuka dan bersedia belajar tentang banyak hal merupakan salah satu upaya untuk menjernihkan persepsi. Kehidupan ini sangat lengkap artinya terdiri dari beragam situasi, sebab, macam, dan lain sebagainya. Tidak mungkin seseorang menguasai semua ilmu atau menyelami pikiran banyak orang di dunia. Jadi sebaiknya jangan terburu-buru menciptakan kesimpulan, melainkan mencari pelajaran positif yang dapat dipetik sebagai bekal untuk berpikir dan bertindak lebih bijaksana.
Contoh akhir-akhir ini media cetak maupun elektronik di tanah air bahkan luar negri sedang dihebohkan video asusila artis papan atas. Jika benar mereka melakukan tindak asusila itu, bukan berarti semua perilaku mereka negatif. Alangkah bijaksana jika kita menjadikan hal itu sebagai pembelajaran untuk tidak mencoba melanggar norma susila, agama maupun hukum, apapun profesi yang kita jalani, karena dampak buruknya sangat luar biasa tak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga keluarga dan masyarakat.
Jika saya perhatikan, orang-orang yang hidupnya cukup sukses di dunia ini senantiasa menjaga persepsi mereka tetap positif. Sehingga sikap dan tindakan mereka juga positif, contohnya tekun berusaha, rendah hati, disiplin, cermat atau berhati-hati dalam segala hal dan lain sebagainya. Disamping itu, mereka mampu melakukan tanggung jawab dengan baik dan menghasilkan karya luar biasa.
Persepsi seumpama ‘kaca jendela’ untuk melihat segala sesuatu nampak baik atau buruk. Ketika Anda mampu menjadikan persepsi selalu positif, maka Anda juga mempunyai kekuatan untuk melihat segala hal dengan lebih jernih, penuh optimisme, semangat, kasih sayang dan cinta, dan lain sebagainya, sehingga membantu Anda selalu bersikap positif dan tidak menyerah pada keadaan sesulit apapun untuk meraih sukses dan kebahagiaan. Oleh sebab itu, jika Anda ingin mencapai hasil akhir yang menyenangkan, maka jangan pernah membiarkan ‘kaca jendela’ Anda kotor.



*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.Kunjungi websitenya di: www.andrewho-uol.com