ini adalah catatan dari cerita perjalanan kehidupan saya dan keluarga, blog ini sengaja saya sembunyikan dari keluarga dengan harapan suatu saat mereka bisa menemukan, mencerna, dan memahami maksud saya dari menulis blog ini, meski dengan cara copy paste

Kamis, September 30, 2010

Richard Philips Feynman

Richard Philips Feynman dilahirkan pada 11 Mei 1918 di Far Rockway, New York, AS. Ayahnya adalah seorang penjual pakaian seragam militer yang mendidik Feynman dengan berbagai ilmu oengetahuan alam. Hal ini ternyata memancing sifat ingin tahu yang besar dari Feynman muda yang kemudian berperan besar dalam kariernya kelak.

Saat berusia 12 tahun, Feynman memiliki lbolatorium yang dibuatnya sendiri. Dia melakukan percobaan listrik, membuat radio sederhana, hingga menjadi teknisi radio panggilan amatir di labolatoriumnya. Dia juga bermain-main dengan percobaan kimia sederhana. Bahan-bahannya diambil dari dedauan dan bumbu masak ibunya.

Setelah menyeleseikan kuliah sarjananya di jurusan Fisika di Massachusetts Institute of Technology University. Disana dia bertemu dan digembleng oleh astrofisikawan terkenal, John Wheeler. Feynman pernah menjadi pembicara dalam seminar berkala, tidak tanggung-tanggung Wheeler mengundang fisikawan tersohor, termasuk Albert Einstein.

Feynman menyeleseikan jenjang S-3 dan meraih gelar Ph. D. pada 1942. Dia kemudian bergabung dengan Proyek Manhattan, proyek pengembangan bom atom pertama. Dia ditempatkan di Los Amolos untuk mengerjakan teori-teori penguraian inti atom sebagai sumber energy bom atom. Disana dia bertemu Hans Bathe (peraih nobel 1967) dan Julius Robert Oppenheimer (kepala proyek di Los Amolos).

Selama di Los Amolos, karakter keingintahuannya yang besar menyihir semua orang. Tidak hanya kesuksesannya menyeleseikan banyak permasalahan dan membantu AS membuat bom atom pertama, tetapi juga caranya memakai konsep-konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari. Feynman terkenal sebagai “tukan buka kunci, laci dan brankas” yang andal. Jenderal Leslie Groves, sosok militer yang memimpin proyek di Los Alamos, terpakasa memerintahkan untuk mengganti semua brankas di kantor karena ulah Feynman yang sukses menjebol kunci tanpa merusaknya.

Feynman sangat berperan besar dalam kesuksesan Proyek Manhattan. Setelah proyek ini selesei dia bergabung dengan Cornell University (1945-1950), kemudian pindah ke California Institute of Technology (Caltech), dan pada 1959 diangat sebagai professor fisika di universitas tersebut.
Kemampuan Feynman menjelaskan fisika yang rumit menjadi sederhana dan indah, membuatnya terkenal dan tersohor dikalangan ilmuwan. Pada tahun 1961 dia sempat menyediakan dirinya mengajar fisika dasar untuk pada mahasiswa baru tahun pertama. Kuliahnya dihadiri tidak hanya dari mahasiswa sendiri, tetapi juga oleh mahasiswa senior, para peneliti bahkan professor.

Sumbangan terbesar Feynman adalah di bidang elektrodinamik kuantum, sebuah teori kuantum yang menjelaskan interaksi cahaya dan materi (light-matter interaction). Teori ini adalah teori kuantum tersukses sejauh ini.

Teori elektrodinamik kuantum dirintis oleh pakar kuantum Paul Dirac, Warner Heisenberg, Wolf Pauli, dan Enrico Fermi pada 1920-an. Feynman berhasil menyeleseikan teori ini.
Kontribusi lainnya dari Feynman adalah “Diagram Feynman”, yang mempersingkat kalkulasi berlembar-lembar menjadi sepotong diagram sederhana yang mudah diinterpretasikan secar fisik. Diagram ini akhirnya dipakai secara luas dalam mempelajari interaksi antar-partikel. Diagram Feynman menjelaskan, bagaimana dua electron saling tolak-menolak ketika berdekatan dengan mempertukarkan foton. Unutk idenya yang sangat brilliant ini, Feynman meraih nobel fisika 1965, bersama Julian Schwinger (AS) dan Shinichiro Tomonaga (Jepang). Mereka bertiga sama-sama berkontribusi dalam Elektrodinamika Kuantum, tapi berbeda metode matematikanya.

Feynman bahkan berkontribusi pada beberapa bidang fisika lainnya. Sebut saja Teori Helium Cair, bersama fisikawan Rusia, L.D. Landau; Teori Peluruhan Beta; Teori Proten yang mengantarkan kita pada pemahaman Quark; juga terlibat dalam perintisan teknologi nano dan computer kuantum.
Tidak seperti fisikawan lainnya yang begitu serius membidani fisika dan ilmu sains lainnya. Feynman justru menjadikan fisika sebagai sebuah permainan yang mengasyikkan. Keingintahuan yang tinggi dan kecintaanya bermain-main dengan fisika telah melibatkannya dalam berbagai petualangan. Petualangan yang sangat inspiratif, seru, sekaligus usil terangkum dalam dua buku biografinya, surely You are joking, Mr. Feynman (1981) dan What Do You Care What People Think (1989).

Feynman sempat berprofesi sebagai penabuh gendang festival ketika menjadi professor tamu di University of Rio, Brazil. Dia juga berlatih menggambar dan beberapa karyanya pernah dipublikasikan atas nama “Ofey”. Petualangannya paling terkenal adalah ketika berhasil memecahkan misteri meledaknya pesawat ulang-alik Challenger pada 1986.

Feynman mungkin bukan pintar di zamannya, tetapi dia sudah membuat fisika menjadi ilmu yang menyenangkan. Cara dia memecahkan masalah dan menjelaskannya dalam tulisan dan ceramahnya menjadi inspirasi ribuan fisikawan muda modern. Feynman meninggal duni pada 15 Februari 1988 karena menderita kangker usus.

Selasa, September 21, 2010

Menjadi Seorang Pengambil Risiko

"There is no security on this earth. Only opportunity." - Douglas MacArthur.
Apa jadinya bila kita takut mengambil risiko dalam hidup ini? Segala yang kita lakukan pasti berisiko! Apalagi bila hendak maju dan sukses, risiko adalah sesuatu yang harus kita akrabi, bukan dihindari.

Bicara mengenai risiko, seperti kata William J. Bernstein dalam bukunya "The Four Pillars of Investing", "Risk, like pornography, is difficult to define, but we think we know it when we see it." Risiko, seperti pornografi, sukar untuk didefinisikan, tapi kita akan mengetahuinya bila kita telah melihatnya. Begitu pula risiko, kita akan mengetahui dan merasakannya bila kita telah menjalaninya.

Bila kita berani mengambil risiko, artinya kita telah berani menjalani kehidupan itu sendiri. Juga menunjukkan bahwa kita yakin akan mendapatkan suatu pelajaran berharga dari setiap risiko yang diambil. Tentu saja bukan berarti melangkah tanpa perhitungan yang matang. Satu rahasia orang-orang yang telah sukses, seperti yang mereka ungkapkan, adalah bahwa mereka sering mengambil risiko dalam bertindak.

Lantas, mengapa sebagian orang enggan untuk mengambil risiko? Jawabannya sederhana. Mereka takut gagal, berpikir tak dapat melakukannya, atau merasa belum mahir dan berbakat. Keberanian mengambil risiko, sesungguhnya lebih menunjukkan kepada karakter dan mental seseorang. Bukan pada besar kecilnya risiko yang dihadapi. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari peristiwa yang datang menghampirinya, tapi dari respon yang ia berikan dari peristiwanya itu sendiri.

Jadi, bila kita ragu untuk melangkah karena tidak tahu apa yang akan menghadang langkah kita nantinya, beranilah untuk mengambil risiko. Beranilah untuk mengambil kesempatan yang datang demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik. Toh, kita tidak akan tahu apakah kita sanggup menghadapinya atau tidak, sebelum kita benar-benar mengalaminya.

Namun, sekali lagi diingatkan, berani mengambil risiko bukan berarti melakukan tindakan gegabah. Hanya karena sebagai orang berhasil menggapai kesuksesan karena tidak takut akan risiko, kita tetap harus melakukan persiapan dan pertimbangan yang matang. Agar apabila suatu saat risiko yang kita takutkan itu benar-benar terjadi, kita dapat melewatinya dengan baik. Begitulah bila kita ingin sukses dalam segala hal, kita akan selalu dihadapi dengan risiko. Risiko sangat berkaitan dengan rasa takut-takut akan timbulnya kekacauan, takut akan penilaian orang lain yang menghakimi, dan takut akan hal-hal tak terduga yang menunggu di depan sana. Hadapi rasa takut itu dan jadikanlah rasa takut sebagai motivator!


Tanpa kita sadari, banyak sekali keuntungan yang dapat kita ambil bila kita berani mengambil dan menghadapi risiko. Bila kita melakukan kesalahan, otomatis kita akan lebih bijaksana ke depannya. Bila kita sukses, kita akan belajar dan tahu besarnya kapabilitas dan potensi yang kita miliki. Dalam hal karier, saat kita berani mengambil risiko, maka hal itu akan mengantar kita menjadi seorang pemimpin dan inovator. Kunci dari semua yang telah disebutkan di atas adalah, menjadi a smart risk taker- seorang pengambil risiko yang cerdas!

Berikut ada enam cara yang ditulis oleh Beth Banks, PhD-seorang ahli di bidang leadership development, yang bisa mengantar kita menjadi salah satunya.

Percaya pada insting

Jangan menunggu sampai suatu petunjuk nyata datang kepada kita, baru mengambil keputusan, karena bisa saja petunjuk itu datang terlalu telat atau malah tidak datang sama sekali. Kalaupun ada petunjuk yang sangat baik, bukan hanya kita saja yang mengetahuinya, tetapi juga orang lain yang mungkin memiliki tujuan yang sama. Saat ide brilian menghampiri, jangan banyak membuang waktu, langsung realisasikan dan kerjakan saat itu juga! Percaya pada apa kata hati.

Jangan takut untuk meminta bantuan

Bila memang kita sedang menghadapi suatu hal yang memang kita kurang pahami, sedangkan sesuatu itu bisa membawa kemajuan besar menuju apa yang kita ingin capai, jangan ragu untuk meminta bantuan kepada yang lebih ahli. Bila kita terus terjebak dalam rasa takut akan risiko-takut bila meminta bantuan kepada orang lain, maka kemampuan kita akan diremehkan, maka kita tidak akan pernah bisa maju.

Lepaskan energi positif

Rasa takut, stres, dan ketidakpastian bisa kita jadikan "teman", bukan musuh yang harus dihindari, asalkan kita memperlakukannya sebagai motivasi, bukan sebagai penghalang. Biasakan untuk menolelir perasaan-perasaan itu. Selalu ingatkan kepada diri sendiri, bahwa kemajuan tidak akan datang bila kita tidak melangkah maju ke keadaan yang penuh ketidakpastian.

Antisipasi dan tindakan

Tidak membuat suatu keputusan sebenarnya adalah sebuah keputusan, yang buruk tentunya. Berpikirlah seperti seorang atlet, dan belajar untuk menempatkan diri bahwa aksi dan tindakan diperlukan untuk mencapai suatu prestasi.

Belajar dari Kegagalan

Pelajaran yang paling berharga dalam hidup kita adalah apa yang dihasilkan dari sebuah kegagalan. Orang-orang bisa menjadi sangat pemaaf bila kita benar-benar sudah melakukan yang terbaik dan bersikap penuh dengan integritas.

Realistis

Memang, terkadang ide-ide dan mimpi yang superfantastis akan terlihat sangat bagus di atas kertas, tetapi kenyataan tidak semudah menulis di atas selembar kertas. Saat kita sudah merasa siap untuk mengambil risiko, pikirkan tentang alasan yang masuk akal mengapa kita akan melakukannya.
Ada beberapa halangan yang bisa membuat kita mengurungkan niat untuk menjadi seorang pengambil risiko. Mungkin, dengan mengetahui apa saja halangan/perasaan itu, kita bisa jadi lebih siap dan tidak berubah pikiran untuk melangkah maju demi mencapai apa yang kita inginkan, walaupun ada risiko yang menghadang!

-Rasa takut akan penolakan
-Takut tidak mendapatkan persetujuan
-Perasaan bersalah
-Keinginan untuk selalu benar
-Ketidakpastian
-Rasa takut diremehkan
-Menghindari konflik
-Takut akan kegagalan
-"Bermain" aman
-Takut akan menyakiti orang lain.