Merendah Itu Indah
Posted by on Kamis, Oktober 28, 2010 with No comments
Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di Indonesia.
Demikian baiknya turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan
kesempatan untuk memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya
meninggal di Indonesia, dan sudah teramat sering ditipu orang, maka iapun
meminta untuk melihat dulu baik surga maupun neraka. Ketika memasuki
surga, ia bertemu dengan *******, kiai dan orang-orang baik lainnya yang
semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di neraka lain lagi, ada
banyak sekali hiburan di sana. Ada penyanyi cantik dan seksi lagi
bernyanyi. Ada lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka
jauh lebih dipenuhi hiburan
dibandingkan surga.
Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan
untuk tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika
sampai di neraka. Ada orang dibakar, digantung, disiksa dan
kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya. Maka proteslah dia pada petugas neraka yang
asli Indonesia ini. Dengan tenang petugas terakhir menjawab : 'kemaren
kan hari terakhir pekan kampanye pemilu". Dengan jengkel turis tadi
bergumam : 'dasar Indonesia, jangankan pemimpinnya, Tuhannya saja tidak
bisa dipercaya!'.
Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini
hanya lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan(trust)
telah menjadi komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri
tercinta ini. Dan sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di
mana kepercayaan itu mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan
keluar amat dan teramat sulit.
Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan
ribuan tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau
kepercayaan tidak ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit,
berujung dengan adu mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang
cemburu.
Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi
kanker yang demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula
dari sini. Buruh yang mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga
diawali dari sini. Apa lagi krisis perbankan yang memang secara
institusional bertumpu pada satu-satunya modal : trust capital.
Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada
siklus ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada
Bambang. Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan.
Inilah lingkaranketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah
krisis.
Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus
perburuhan seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung
pangkal, ini tidaklah diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila
saja. Kita semua sedang memproduksi diri seperti itu.
Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan
rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan
pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja :
bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke
ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.
Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, 'seperti sentimen, benci,
dan sejenisnya ', menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari
permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya,
mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif 'sabar,
tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya' menempatkannya
sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah
sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang
menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman
halaman rumah yang
memerlukannya.
Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan
dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi
demikian. Penyelesaian persoalan manapun 'termasuk persoalan perburuhan ala
Shangrila' bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa
banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.
Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara
menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat
berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif,
kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.
Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan
sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu
sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki
dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang
sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai
penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai
pengkondisian yang mematikan.
Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan
yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana
pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir
sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih
banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang
membuatnya demikian, karena laut berani merendah.
Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke
Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau
uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau
rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya
ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian
untuk merendah.
Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-
injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun
melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham
entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung
web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : 'kita bertemu yang maha
tinggi, ketika kita rendah hati'. ***
by Gede Prama
Demikian baiknya turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan
kesempatan untuk memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya
meninggal di Indonesia, dan sudah teramat sering ditipu orang, maka iapun
meminta untuk melihat dulu baik surga maupun neraka. Ketika memasuki
surga, ia bertemu dengan *******, kiai dan orang-orang baik lainnya yang
semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di neraka lain lagi, ada
banyak sekali hiburan di sana. Ada penyanyi cantik dan seksi lagi
bernyanyi. Ada lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka
jauh lebih dipenuhi hiburan
dibandingkan surga.
Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan
untuk tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika
sampai di neraka. Ada orang dibakar, digantung, disiksa dan
kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya. Maka proteslah dia pada petugas neraka yang
asli Indonesia ini. Dengan tenang petugas terakhir menjawab : 'kemaren
kan hari terakhir pekan kampanye pemilu". Dengan jengkel turis tadi
bergumam : 'dasar Indonesia, jangankan pemimpinnya, Tuhannya saja tidak
bisa dipercaya!'.
Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini
hanya lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan(trust)
telah menjadi komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri
tercinta ini. Dan sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di
mana kepercayaan itu mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan
keluar amat dan teramat sulit.
Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan
ribuan tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau
kepercayaan tidak ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit,
berujung dengan adu mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang
cemburu.
Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi
kanker yang demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula
dari sini. Buruh yang mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga
diawali dari sini. Apa lagi krisis perbankan yang memang secara
institusional bertumpu pada satu-satunya modal : trust capital.
Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada
siklus ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada
Bambang. Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan.
Inilah lingkaranketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah
krisis.
Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus
perburuhan seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung
pangkal, ini tidaklah diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila
saja. Kita semua sedang memproduksi diri seperti itu.
Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan
rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan
pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja :
bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke
ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.
Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, 'seperti sentimen, benci,
dan sejenisnya ', menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari
permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya,
mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif 'sabar,
tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya' menempatkannya
sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah
sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang
menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman
halaman rumah yang
memerlukannya.
Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan
dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi
demikian. Penyelesaian persoalan manapun 'termasuk persoalan perburuhan ala
Shangrila' bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa
banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.
Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara
menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat
berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif,
kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.
Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan
sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu
sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki
dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang
sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai
penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai
pengkondisian yang mematikan.
Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan
yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana
pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir
sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih
banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang
membuatnya demikian, karena laut berani merendah.
Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke
Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau
uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau
rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya
ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian
untuk merendah.
Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-
injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun
melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham
entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung
web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : 'kita bertemu yang maha
tinggi, ketika kita rendah hati'. ***
by Gede Prama
Categories: Cerita Inspirasi, Renungan
0 komentar:
Posting Komentar