Renungan Orang Tua
Posted by on Kamis, Juni 24, 2010 with No comments
email dari seorang sahabat tuk renungan orang tua
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat
saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot.
Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu
inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya
saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal
demi
soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang
tampil
bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil
testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
dimana
skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa,
ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 -
160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya
tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani
test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis
yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat
kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban
yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca
diri,
melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini
saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif
sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar,
kapan
waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan
waktunya
membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan
sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika
perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah
dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar
sekolah.
Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan
bermain
sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika
Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan
sesuatu".
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak
mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan
itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti
apa
yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa
harus
dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran
yang
habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan
oleh
kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal
saya
merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin,
hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan
sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin
menjadikan
Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya
seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau
bahkan
beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya
untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan
adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih
untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya
dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu
kesalahan
apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang
harus
kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi
pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat
kesalahan
yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara
tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya
cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang
sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang
menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang
diberikan
gurunya. Namun ternyata hal-hal yang
menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.
Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan
Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dika pun
menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan
nya.
Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak
pernah
berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta
maaf
kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai
manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya
sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau
perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap
hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan
lancar "Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
memeluk
adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir
setinggi
saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium.
Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak
menyadari
bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya
seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau
pilih
kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap
hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata
"tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman
tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya,
tetapi
justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam
melakukan
segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku
dengan
nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami
telah
memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi
Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan
sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang
berarti laki-laki.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku ..." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama
Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda
dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata
suami
saya.
To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang
mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah
Kewajiban, bukan Pilihan".
ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak
yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan
untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh
membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus
mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik..
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat
saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot.
Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu
inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya
saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal
demi
soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang
tampil
bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil
testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
dimana
skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa,
ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 -
160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya
tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani
test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis
yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat
kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban
yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca
diri,
melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini
saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif
sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar,
kapan
waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan
waktunya
membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan
sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika
perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah
dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar
sekolah.
Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan
bermain
sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika
Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan
sesuatu".
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak
mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan
itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti
apa
yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa
harus
dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran
yang
habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan
oleh
kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal
saya
merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin,
hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan
sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin
menjadikan
Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya
seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau
bahkan
beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya
untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan
adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih
untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya
dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu
kesalahan
apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang
harus
kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi
pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat
kesalahan
yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara
tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya
cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang
sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang
menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang
diberikan
gurunya. Namun ternyata hal-hal yang
menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.
Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan
Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dika pun
menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan
nya.
Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak
pernah
berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta
maaf
kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai
manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya
sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau
perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap
hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan
lancar "Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
memeluk
adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir
setinggi
saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium.
Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak
menyadari
bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya
seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau
pilih
kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap
hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata
"tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman
tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya,
tetapi
justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam
melakukan
segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku
dengan
nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami
telah
memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi
Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan
sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang
berarti laki-laki.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku ..." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama
Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda
dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata
suami
saya.
To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang
mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah
Kewajiban, bukan Pilihan".
ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak
yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan
untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh
membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus
mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik..
Categories: Renungan
0 komentar:
Posting Komentar