Terinspirasi Tukang Ongol-ongol

Posted by on Sabtu, Mei 23, 2009 with No comments
Adapelajaran berharga yang saya petik dari kehidupan keluarga sahabat saya di Jakarta. Setahun tidak bertemu keadaan ekonominya berubah drastis. Setahun yang lalu, sahabat saya bernama Budi, adalah seorang marketing manager sebuah perusahaan asuransi ternama dengan gaji yang layak. Menurutnya, akibat salah mengelola uang, kehidupannya jadi morat-marit. Utang menumpuk di mana-mana, mulai utang KPR, utang kartu kredit, kredit sepeda motor, utang rentenir, utang warung, dll.

Untuk mengatasi masalah tersebut, 2 bulan yang lalu rumahnya dijual untuk menutupi semua utang-utangnya. Hanya kredit sepeda motor yang belum dilunasi dan sisa uangnya dibelikan sebidang tanah. Eh nggak taunya tanah yang dibelinya dalam sengketa. Habislah harta saya semua, katanya. Karena panik, Dia pindah kerja ke perusahaan asuransi lain dengan posisi yang lebih baik, nasib apes perusahaan asuransi tempat barunya bermasalah, dan Dia terpaksa harus terjun bebas jadi agen Freelance yang hanya mengharapkan bonus yang tidak jelas. Uang yang ada pada istri tinggal 150 ribu. Hidup di Jakarta, tepatnya di Cilodong, dengan 3 anak yang sudah besar-besar.


Bayangkan !, katanya dengan nafas yang berat. Pada saat itu Dia yakin Allah akan memberikan jalan, isterinya tiba-tiba terinspirasi pada seorang janda tua tetangga rumahnya yang berhasil menyekolahkan anaknya sampai ke universitas, dengan ‘hanya’ menjual ongol-ongol (makanan dari bahan campuran tepung sagu, berwarna coklat kehitaman ditaburi kelapa parut). Sejak saat itu Tini, isterinya mengambil peran ekonomi keluarga. Mereka saling bahu-membahu mengatasi ekonomi keluarga dengan berjualan Nasi Uduk, Nasi Goreng, Kue-kue khusus untuk sarapan pagi yang disiapkan pada pagi hari sebelum warga perumahan berangkat kerja. Isterinya menjajakan makanan dengan cara door to door, subuh-subuh sudah mengetuk pintu rumah orang.


Pekerjaan yang terasa berat dari pekerjaan ini adalah mengatasi rasa malu, belum lagi respons calon konsumen yang kadang menyakitkan hati. Tapi tidak ada pilihan lain semua harus berjalan untuk mempertahankan hidup. 1 bulan berlalu, Alhamdulillah uang 150 ribu, masih tetap ada. Kebutuhan makan keluarga, uang sekolah anak, uang untuk kredit motor bahkan transport suami untuk keliling jadi agen asuransi bisa teratasi. Kata Tini, isterinya Budi. Dagangan makin punya banyak pelanggan, permintaan barang makin banyak seperti sembako dan nugget, tinggal modalnya aja yang belum ada. Respons warga tambah baik terutama Ibu-Ibu di Perumahan itu merasa terbantu tidak perlu menyiapkan sarapan buat suami dan anak-anak mereka.

Alhamdulillah, katanya, Anak-anak kami sudah dapat menerima keadaan, keluarga kami semakin kompak, sekarang ini kami nggak punya uang tapi hidup terasa lebih tenang, tidak diburu debt collector, katanya mengakhiri cerita. Satu lagi pelajaran penting buat saya, mungkin juga buat rekan-rekan lain yang masih jadi orang gajian, untuk menjadi entrepreneur ternyata modal utamanya adalah BERANI Plus MOTIVASI. Tapi kadang-kadang Saya berpikir, apakah harus kepepet dulu baru punya keberanian ?. Memang susah untuk memulai usaha, kalo kita masih merasa nyaman di Zona Aman.


Oleh : Joko Wahyono